HOME » RAGAM
RAGAM
Kamis, 03 Agustus 2017 , 11:40:00 WIB

Kinerja Pasukan Orange Merosot, Kali-Kali Kembali Kotor

Laporan: Widodo Bogiarto





RMOL. Jelang pergantian kekuasaan di Pemprov DKI Jakarta, ternyata membawa dampak yang cukup signifikan terhadap kondisi kali-kali di ibukota. Setelah sempat bersih, sehingga menuai pujian dari berbagai pihak, kondisi kali-kali di Jakarta kini kembali memprihatinkan.

Sejak menjabat Gubernur DKI Jakarta, menggantikan Joko Widodo alias Jokowi yang naik pangkat jadi Presiden RI, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sangat serius dan tegas dalam menjalankan program Kali Bersih.

Salah satu terobosan penting yang dilakukan Ahok dalam upayanya mewujudnyatakan program Kali Bersih itu adalah pembentukan Pekerja Harian Lepas (PHL) di Unit Pengelola Kebersihan (UPK) Badan Air Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta dan para petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) di kelurahan-kelurahan, yang kemudian populer lewat sebutan Pasukan Oranye, sesuai warna seragam yang dikenakannya.

Tugas utama Pasukan Oranye itu, antara lain, membebaskan kali-kali di Jakarta dari tumpukan sampah, menjaga kedalaman kali dari proses pendangkalan, dan melindungi aliran air tetap berjalan lancar.

Namun kini, kondisi kali-kali yang sempat bersih itu kembali terlihat memprihatinkan. Aneka sampah rumah tangga mulai memenuhi lagi kali di Kelurahan Pulogebang, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur.

Begitu juga dengan badan kali di kawasan perumahan Pulomas, Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur.

Pemandangan nyaris serupa terjadi pula di saluran penghubung Kelurahan Palmeriam, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur.

Selidik punya selidik, ternyata memang terjadi kemerosotan yang lumayan tajam pada kinerja para tenaga PHL yang ditugaskan khusus menjaga kebersihan kali, bahkan tak sedikit yang seolah makan gaji buta karena relatif sama sekali tak bekerja.

Salah seorang PHL di UPK Badan Air Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengakui, cukup banyak rekannya yang sekadar mendata kehadiran melalui finger print lalu pergi, tidak bekerja apa-apa, dan malah mencari penghasilan sampingan dengan memanfaatkan fasilitas yang mereka miliki.

"Ada yang nyambi jualan kopi, narik ojeg online, bahkan membabat rumput milik pihak lain demi mendapatkan upah tambahan untuk menambal penghasilan dari gajinya sebagai PHL yang sekitar Rp 4,9 juta per bulan," kata seorang anggota PHL.

Berdasarkan catatan, terdapat sekitar 105 tenaga PHL dari UPK Badan Air Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta yang bertugas di Kecamatan Pulogadung. Bahkan di Kecamatan Cakung jumlahnya lebih banyak lagi, 230 orang.

Namun, jumlah petugas sebanyak itu terbukti belum berhasil menyelamatkan kali-kali di sekitar Kecamatan Pulogadung dan Cakung dari tumpukan sampah.

Secara umum, kali-kali yang masih terlihat bersih hanyalah yang masuk kategori saluran primer (pintu air) dan sebagian saluran sekunder (saluran penghubung di jalan raya). Itu pun hanya yang berada di sepanjang jalan raya utama.

Menyikapi hal itu, Kepala Satuan Pelaksana Prasarana dan Sarana UPK Badan Air Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Richard Jeremia menjelaskan, penetapan jumlah petugas PHL di setiap wilayah itu didasari perhitungan kondisi lapangan, termasuk di dalamnya soal luas dan beban kerja yang dihadapi.

"Standar penghitungan kebutuhan tenaga PHL dilakukan dengan menggunakan yang namanya analisis beban kerja. Hal itu untuk menyesuaikan kebutuhan tenaga kerja dengan memperhitungkan kondisi lapangan, terutama soal luas wilayah dan beban kerja yang dihadapi. Sistem pengawasannya dilakukan dengan monitoring setiap hari, yang dimulai dari pemantau, yaitu tenaga PHL sendiri. Laporan harian itu kami input dengan menggunakan sistem IT (Teknologi Informasi), termasuk WhatsApp," kata Richard, Kamis (3/8).

Terkait adanya indikasi tenaga-tenaga PHL mubazir, yang sekadar makan gaji buta tanpa kerja sebagaimana mestinya, Richard mengibaratkannya seperti ajang kucing-kucingan” antara maling dan polisi.

Setiap kali polisi membuat teknik-teknik penangkapan baru, maling pun langsung mengantisipasi dengan menciptakan modus-modus yang juga baru. Bahkan, biasanya, malinglah yang duluan membuat modus baru, dan polisi menciptakan teknik untuk mengatasinya. Begitu polisi mendapatkan tekniknya, maling sudah membuat modus yang baru lagi,” kata Richard.

Meski begitu, Richard menyatakan akan mempelajari fenomena tersebut, dan mencari cara untuk meningkatkan pengawasan terhadap kinerja para petugas PHL yang "nakal" itu. [ipk]





BERITA LAINNYA

RUBRIK   :