HOME ยป RAGAM
RAGAM
Selasa, 12 September 2017 , 21:19:00 WIB

Silsilah Kiai Nasihin, dari Majapahit Hingga Rasulullah SAW

Laporan: Zulfahmi Jamba





MOL. KH Ahmad Khoirun Nasihin (AKN) Marzuqi atau yang akrab disapa Kiai Nasihin merupakan ulama tarekat yang tinggal di kawasan pesisir utara laut Jawa, tepatnya Dukuh Slempung, Desa Dukuhseti, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Kedalaman ilmunya membuat sejumlah pejabat penting hingga presiden berguru kepada beliau.

Bahkan, Kiai Nasihin sudah menjadi mursyid pada usia 14 tahun. Hal itu wajar, karena beliau memiliki garis keturunan dari Kerajaan Majapahit hingga Rasulullah SAW.

Pendiri Yayasan Baitul Hazin yang menaungi Pondok Thoriqoh Tijaniyah, Ponpes Putra Putri AKN Marzuqi, SMK Telkom Terpadu AKN Marzuqi, dan SMP Terpadu AKN Marzuqi ini mengungkapkan, dia merupakan keturunan Raden Paku, putra dari Dewi Sekardadu.

Raden Paku sendiri merupakan cucu dari Menak Sembuyu, penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir kekuasaan Majapahit.

Sejarah mencatat, Dewi Sekardadu menikah dengan seorang penyebar agama Islam dari Asia Tengah bernama Maulana Ishaq. Pernikahan keduanya dikaruniai seorang anak bernama Raden Paku yang kelak menjadi Sunan Giri, setelah mendapatkan bimbingan dari Sunan Ampel dan Sunan Bonang.

Sementara ayah Raden Paku, Maulana Ishaq adalah putra dari Syekh Jumadil Qubro. Maulana Ishaq memiliki saudara laki-laki bernama Maulana Malik Ibrahim yang dikenal dengan Sunan Gresik.

Dengan demikian, Raden Paku juga merupakan keponakan dari Sunan Gresik. Raden Paku aktif menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa, saat wilayah Blambangan yang merupakan kelanjutan dari Kerajaan Majapahit masih banyak memeluk agama Hindu dan Buddha.

Kakek Raden Paku dari jalur ayah yang bernama Syekh Jumadil Kubro adalah keturunan ke-10 dari Husain bin Ali, yaitu cucu Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, Raden Paku merupakan keturunan dari hasil perkawinan nasab Nabi Muhammad SAW dan penguasa Majapahit.

Kedalaman ilmu agama Raden Paku membuat dia aktif berdakwah dan menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa. Kelak, dia menjadi satu di antara anggota walisongo bergelar Sunan Giri dan mendirikan kerajaan kecil bernama Giri Kedaton.

Berdasarkan garis keturunan tersebut, maka tidak heran jika Kiai Nasihin memiliki kelebihan di bidang kedalaman ilmu agama Islam, karena leluhurnya, Sunan Giri memiliki garis keturunan Nabi Muhammad SAW dan trah Majapahit. Kendati demikian, Kiai Nasihin tetap tawadu, rendah hati kepada siapapun.

Kiai Nasihin Menjadi Guru Mursyid Sejak Usia 15 Tahun

Kedelaman ilmu agama ISlam Kiai Nasihin sebetulnya telah terlihat sejak usia muda. Bahkan  di usianya yang masih remaja, beliau sudah menjadi guru mursyid. Hal itu diakui KH Ahmad Thoha Ismail, pengasuh Ponpes Nurul Furqon, Ngemplak, Pati, Jawa Tengah.

"Sejak usia sekitar 15 tahun, Kiai Nasihin sudah menjadi guru mursyid. Tidak sekadar punya murid, tapi mahaguru, di atas kiai. Beliau memang pernah menjadi murid saya di bangku sekolah formal, tapi untuk ilmu sirri, beliau adalah guru saya," ujar KH. Thoha.

Kemampuan itu dimiliki beliau, dikarenakan Kiai Nasihin telah dilatih sejak belia oleh kedua orangtuanya yang sama-sama guru mursyid tarekat Syattariyah.

"Kiai Nasihin diajarkan tarekat sejak belia sehingga memiliki banyak keajaiban di usianya yang masih muda," ungkap KH. Toha.

Selain itu, Kiai Nasihin juga memiliki banyak guru tarekat sejak usia belasan. Beberapa gurunya, antara lain KH. Abdullah Salam Kajen yang mengajarkan tarekat Naqsyabandiyah.

Beliau juga belajar tarekat Syadziliyah dan Tijaniyah secara intens. Kiai Nasihin pernah berguru di bidang tarekat kepada KH. Maksum Kajen, KH Khamid Pasuruan, KH Fadhol bin Abdissyakur Tuban, dan KH Abdul Manan Manyaran Semarang.

Meski mendapatkan ilmu tarekat, tetapi Kiai Nasihin muda tetap belajar syariat dengan tekun. Di bidang syariat, beliau belajar tafsir kepada KH. Kiduri Nawawi Kajen, tahrib kepada KH. Nur Hadi, Al Quran kepada KH Sahli Sekar Jalak, dan beberapa kiai sepuh lainnya.

Selain itu, Kiai Nasihin juga menempuh pendidikan formal. Beliau menyelesaikan pendidikan formalnya mulai dari Madrasah Ibtidaiyah/MI (Setara SD), Tsanawiyah (setara SMP), dan Aliyah (setara SMA) di Madrasah Darunnajah Ngemplak, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah.[zul]





BERITA LAINNYA

RUBRIK   :