HOME » POLHUKAM
POLHUKAM
Senin, 13 November 2017 , 00:20:00 WIB

Bebaskan Sandera Di Papua, TNI-Polri Harus Kedepankan Langkah Persuasif







RMOL. Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin meminta Satgas Terpadu dari Polri dan TNI mengedepankan langkah persuasif dan preventif dalam menghadapi kelompok kriminal bersenjata  yang menyandera 1.300 orang dari Desa Kimbely dan Desa Banti, Kecamatan Tembagapura, Mimika, Papua. Upaya persuasif itu tetap harus dikedepankan meskipun kelompok itu ditengarai dari Organisasi Papua Merdeka (OPM).

"Meski mereka menolak negosiasi Satgas Terpadu, aparat keamanan harus melakukan langkah persuasif dan preventif. Dengan begitu, masyarakat bisa terbebas dari intimidasi dan ancaman kelompok bersenjata, tanpa menimbulkan korban jiwa," ujar Hasanuddin dalam keterangan tertulisnya, Minggu (12/11).

Politisi senior PDIP ini juga mendorong agar Satgas Terpadu menggandeng Badan Intelijen Negara (BIN) untuk melakukan pemetaan secara terukur. BIN patut dimintai bantuan karena memiliki kisah sukses dalam merangkul tokoh separatis di Aceh, tahun lalu.‎

Kang TB, sapaan Hanusanuddin, memperkirakan, jumlah kelompok yang melakukan penyanderaan itu cukup besar. "Kalau kelompok bersenjata itu mengurung dua kampung, jumlahnya pasti puluhan. Bisa jadi sampai ratusan," analisisnya.

Kang TB juga meminta kepada para diplomat tak tinggal diam dalam menghadapi persoalan tersebut. Para diplomat harus menjelaskan kasus itu dengan baik ke dunia internasional. Tujuannya, agar tidak menimbulkan citra buruk bagi Indonesia.

"Persoalan Papua memiliki rentang diplomasi yang amat luas. Ada negara yang mendukung Indonesia dan ada juga negara yang amat kritis. Apalagi, Pak Jokowi sekarang ini sedang berada di Vietnam, menghadiri acara KTT APEC," tandasnya.

Terpisah, Kapolda Papua Irjen Boy Rafli Amar mengatakan, kelompok bersenjata itu telah menyandera karyawan PT Freeport Indonesia. Kelompok itu juga menggunakan alat berat untuk merusak jalan menuju Banti, Distrik Tembagapura, Mimika, Papua.

"Memang betul ada laporan tentang karyawan PT Freeport yang disandera kelompok kriminal bersenjata bersama dengan kendaraan berat jenis ekskavator milik perusahaan yang kini digunakan untuk merusak jalan dari Utikini ke Banti," kata Boy.

Saat merusak jalan, kelompok itu melakukan pengawalan menggunakan senjata api. Mereka menggunakan alat berat yang dikemudikan karyawan Freeport yang disandera untuk merusak jalan. Namun, belum diketahui identitas karyawan yang disandera saat merusak jalan itu.

Boy menambahkan, hingga kini kelompok itu masih membatasi aktivitas warga sipil di Desa Kimberli dan Banti, Distrik Tembagapura. "Para sandera (warga sipil) hanya diizinkan berada di sekitar lokasi, yakni di Kampung Kimberly dan Banti," tuturnya. [Ujang/sam]
 





BERITA LAINNYA

RUBRIK   :