HOME ยป RAGAM
RAGAM
Senin, 13 November 2017 , 12:59:00 WIB

Novel 'Ini Kali Tak Ada Yang Mencari Cinta' Kisahkan Tentang Kehidupan Penyair Chairil Anwar







RMOL. Chairil Anwar merupakan penulis dan penyair terkemuka di Indonesia. Diperkirakan pria kelahiran Medan, 26 Juli 1922 dan meninggal pada 28 April 1949  ini telah menghasilkan 96 karya tulisan , termasuk 70 diantaranya adalah puisi. Dan bersama penulis lainnya Asrul Sani dan Rivai Apin, Chairil Anwar dinobatkan sebagai Pelopor Angkatan '45 oleh H.B. Jassin.  

Atas ketertarikan dan kekagumannya pada sosok Chairil Anwar membuat Sergius Sutanto tergerak hatinya untuk membukukannya dalam sebuah novel fiksi berjudul 'Ini Kali Tak Ada Yang Mencari Cinta'.  Novel yang diluncurkan di sebuah mall terkenal di kawasan Senayan itu juga dimeriahkan dengan pembacaan sajak karya Chairil Anwar berjudul 'Hampa' dengan iringan musik akustik MJ dan The Carousel.

Menurut Sergius Sutanto, meskipun banyak penulis yang mengulik bait-bait sajak Chairil Anwar dan membukukannya, namun belum ada penulis yang mengangkat tentang kisah hidup sang 'Binatang Jalang' tersebut.  

"Benar, ini adalah buku tentang kisah hidup Chairil sejak kecil hingga meninggal dunia," kata Sergius Sutanto di acara peluncuran Novelnya tersebut pada Jumat (9/11/2017).

"Sudah banyak buku lain tentang Chairil, namun belum pernah menemukan  buku tentang Chairil yang menggambarkan masa kecilnya, kenakalannya seperti apa," tambah pria berkamata ini.

Tidak seperti buku-buku tentang Chairil Anwar umumnya yang banyak menulis tentang sajak-sajaknya yang romantis atau humanis, dalam novel ini sang penulis lebih memfokuskan pada perjalanan hidup Chairil Anwar itu sendiri. Dan dalam penulisannya, sang penulis tak hanya membaca buku-buku biografi Chairil Anwar melainkan juga melakukan riset dan penelitian.

"Saya suka riset. Saya melakukan penelitian kecil-kecilan. Apa sih yang membuat Chairil menyebut dirinya itu 'Binatang jalang'? Dan akhirnya saya temukan. Chairil itu punya satu dendam masa lalu pada orang yang dicintainya. Makanya dia harus merasa jadi binatang jalang dari kumpulannya yang terbuang," sambung Sergius, yang juga penulis buku 'Hatta dan Mangun' ini.

"Di buku (novel) ini tidak ada puisi, karena di sini riset, ingin menguak kisah hidup seseorang. Saya ingin menulis berdasarkan apa yang saya mau. Saya mau ambil 'angle' pemberontakan bathin. Kalau ada puisi dalam buku ini, ya, cuma sekadar penggambaran karakter saja, kalau Chairil itu adalah penyair," lanjutnya

Sergius mengaku, ia membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk melakukan riset mengenai sosok Chairil Anwar. Lalu untuk penulisannya sendiri memakan waktu tiga bulan, dan proses editing juga tiga bulan.

"Jadi kurang lebih 1,5 tahun saya menyelesaikan buku ini," tambahnya.

Dalam melakukan riset, karena minimnya informasi pustaka dan narasumber mengenai kehidupan masa kecil Chairil, cukup menyulitkan sang penulis dalam melakukan pengembangan cerita.

Beberapa sumber yang menjadi referensi Sergius dalam menulis bukunya tersebut diantaranya adalah buku 'Aku' milik Sjuman Djaya, skripsi milik Arief Budiman berjudul 'Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan', dan tentunya informasi dari putri tunggal Chairil, yakni Evawani Alissa.

"Saya lebih fokus nanya ke bu Eva saja. Saya juga merasa buku Pak Sjuman Djaya itu sangat mewakilkan ya, sebuah interview itu dibuat dengan wawancara langsung dengan narasumber yang masih hidup," kata dia.

Dalam menentukan judul bukunya tersebut, sang penulis mengaku sempat berdebat dengan Evawani Alissa, karena ia  sebenarnya memiliki ide lain untuk dijadikan judul karya ketiganya tersebut.

"Tadinya mau diberi judul 'Mampus Kau Dikoyak-koyak Sepi', salah satu sajak Chairil. Tapi 'kan, menulis buku biografi harus ada toleransi. Ada masanya ketika seorang penulis egonya harus berhenti di satu titik. Kalau nulis buku biografi, masih ada hak dari ahli waris yang harus kita dengarkan," ujar Sergius.

"Iya, waktu itu Mas Sergius ngontak saya via telepon. 'Mbak Eva, kita ambil judul 'Mampus Kau Dikoyak-koyak Sepi'. Saya bilang, 'Aduh, bombastis, ya. Enggak ada yang lain?' Kemudian ngobrol-ngobrol ada masukan lagi, akhirnya terpilih judul 'Ini Kali Tak Ada Yang Mencari Cinta," ungkap Eva, panggilan akrab Evawani Alissa ini pasti.

Jadi, bila tidak menghadirkan puisi-pusi Chairil  Anwar dalam bukunya ini, lalu apa yang akan disampaikan penulis pada pembaca melalui bukunya tersebut?

"Buku ini saya persembahkan untuk mereka yang berani hidup. Saya tidak ingin memuji banyak Chairil Anwar dalam buku ini. Tapi, satu yang saya tahu soal dia, dia adalah orang yang berani untuk hidup," pungkasnya. {mt/sh} 





BERITA LAINNYA

RUBRIK   :