HOME ยป EKONOMI
EKONOMI
Rabu, 15 November 2017 , 11:51:00 WIB

Kemarau, Petani Desa Sooko Terbantu Embung







RMOL. Embung Pertanian merupakan satu bentuk upaya antisipasi anomali iklim pada musim kemarau melalui teknik pemanenan air/konservasi air yang bertujuan meningkatkan indeks pertanaman dan provitas tanaman pangan.

Menu kegiatan ini dialokasikan oleh Kementerian Pertanian melalui dana DAK, Tugas Pembantuan dan APBN Pusat. Selain itu telah dirintis pula kerjasama dengan Kemendes untuk membangun Embung Pertanian dengan dana desa.

Menurut penuturan kabid PSP Dinas Pertanian Kab. Ponorogo, Timur Santoso, dari 17 unit yang dialokasikan pada tahun 2016, semua bangunan telah dimanfaatkan untuk irigasi pertanian. Dalam pelaksanaan konstruksi pekerjaan pihaknya telah mampu mendorong petani penerima kegiatan untuk partisipasi dalam bentuk tenaga kerja, sehingga hasil pelaksanaan pekerjaan lebih efektif.

Salah satu penerima kegiatan pembangunan embung adalah petani yang tergabung dalam HIPPA Rukun Utomo yang berada di Desa Sooko, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.
 
Ketua HIPPA Rukun Utomo, Naryo Suroso menuturkan, sebelumnya terdapat lahan yang kekurangan air sekitar 5 hektare (ha) yang tidak dapat terairi. Sejak embung ada lahan tersebut sudah bisa digunakan. Selain itu terdapat sekitar 15 ha lahan kering untuk palawija juga dapat memanfaatkan air dari embung tersebut dengan menggunakan pompa hasil swadaya petani setempat.

Kepala dusun, Tumari pun senada. Menurut dia, embung sangat bermanfaat sebagai suplesi air di musim kemarau.

Sumber air pengisian embung berasal dari mata air dan limpasan air hujan yang dialirkan melalui saluran masuk ke dalam embung. Total lahan usaha tani yang dapat dilayani sekitar 150 ha.

Saat musim kemarau, periode pengisian secara penuh per dua hari dengan volume tampungan 500 meter kubik dapat digunakan untuk pengolahan tanah seluas 5 ha lahan sawah. Pola tersebut dilakukan secara bergilir, sehingga perlu 30 kali pengisian agar dapat mengairi hamparan 150 ha.

Sejak selesai pembangunan pada bulan Oktober 2016 lalu, embung tersebut telah dimanfaatkan dan terdapat peningkatan IP semula hanya 200 saat ini menjadi IP 300, demikian halnya dengan angka provitas yang awalnya 5 ton/ha GKP, saat ini menjadi provitas 6 ton/ha GKP.[Widya/wid]
  





BERITA LAINNYA

RUBRIK   :