HOME ยป POLITIK
POLITIK
Kamis, 23 November 2017 , 16:07:00 WIB

Santri Digital Serukan Konten Positif dan Peran Segala Lini

Laporan: Widodo Bogiarto





RMOL. Dulu santri identik dengan  mengaji dan membaca kitab kuning. Mereka berada di pesantren yang terisolasi dan jauh dari kemajuan teknologi.

Tetapi kini stereotip itu tak lagi berlaku. Santri di era milenial seperti sekarang tak lagi gagap teknologi. Mereka bisa meniti profesi di berbagai bidang di luar tradisi kepesantrenan seperti guru, ustadz, atau kiai.

Penegasan itu disampaikan oleh COO Kompasiana, Iskandar Zulkarnaen dalam Talkshow "Santri Digital di Era Milenial" di acara International Islamic Education Exhibition (IIEE) atau Pameran Pendidikan Islam Internasional 2017 yang dilaksanakan Direktorat Pedidikan Islam Kemenag di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD Serpong, Tangerang Selatan, Rabu (22/11).

"Wawasan itu tentang bagaimana kita memiliki kemauan untuk belajar. Makanya banyak santri yang sekarang berkiprah di banyak profesi, di banyak bidang dan industri," kata Iskandar.

Mereka tetap dianggap santri karena sudah pernah mondok, dan itu hal yang positif.

Sebagai santri, lanjut pria yang pernah mengenyam pendidikan di Pondok Modern Gontor ini, tidak ada batasan untuk menekuni profesi apa pun.

Selepas dari pesantren, santri era digital tidak harus menjadi guru atau ustadz. Pasalnya, santri juga diharapkan bisa berkiprah dalam membangun negeri.

"Kalau semua orang jadi guru, nanti bidang-bidang lain yang menguasai bukan santri. Sehingga harapan agar santri berkiprah di berbagai profesi tidak tercapai. Akhirnya santri tidak punya peran apa-apa," tegas Iskandar.

Iskandar juga berpesan agar kaum santri memanfaatkan kemajuan teknologi, terutama sosial media dan gadget untuk hal-hal positif dan memperluas wawasan. Dengan benteng moral yang dipelajari selama di pesantren, tidak dikhawatirkan santri akan terjerumus ke dalam hal-hal negatif dan dilarang.

"Santri harus punya kebebesan berpikir, berwawasan luas. Tidak terpenjara dalam satu paradigma atau satu cita-cita saja," tambah Iskandar.

Di samping itu, lanjut Iskandar, santri harus peduli dan tidak apatis terhadap kondisi sekitar. Dia harus mampu mengapresiasi keragaman dan perbedaan pendapat , terutama di dalam masyarakat.

"Anggaplah perbedaan itu sebagai cara untuk akrab terhadap lawan bicara. Saya selalu katakan, kalau kalian banyak berantem di FB, berarti kalian gagal memanfaatkan FB sebagai situs pertemanan," pungkas Iskandar.

Talk show ini merupakan rangkaian acara International Islamic Education Exhibition (IIEE) atau Pameran Pendidikan Islam Internasional 2017 yang dilaksanakan Direktorat Pedidikan Islam Kemenag di ICE BSD Serpong, Tangerang Selatan 21-21 November 2017.  Selain talk show, IIEE juga diisi sejumlah agenda, di antaranya Konferensi Internasional Studi Islam, Deklarasi Jakarta, Apresiasi Pendidikan Islam (API), Anugrah Guru Madrasah Berpestasi (Gupres), Seminar Internasional tentang Studi Pesantren, Kompetisi Robotik Madrasah, dan Pentas Dongeng Islami PAI.[dem]





BERITA LAINNYA

RUBRIK   :