HOME » OPINI
OPINI
Sabtu, 25 November 2017 , 16:48:00 WIB

Telaah Kritis Korps Oemar Bakrie di Hari Guru Nasional







MINAT menjadi guru terus meningkat. Hal itu dipicu naiknya taraf ekonomi para guru, khususnya di perkotaan. Di era digital ini, Korps Oemar Bakrie itu, laki-laki maupun perempuan, banyak yang menyimpan sepeda kumbangnya di gudang, diganti Mobil Avanza atau Xenia, meski katanya kreditan.

Riset Bank Dunia tentang program sertifikasi guru tahun 2009, 2011 dan 2012, mengkonfirmasi kenaikan taraf ekonomi guru Indonesia dan meningkatnya minat menjadi guru. Riset itu melibatkan sampel dari 240 SD, 120 SMP, 3.000 guru dan 9.000 siswa itu.

Namun sungguh disayangkan, berdasarkan riset itu, peningkatan taraf hidup para guru dan juga peningkatan minat orang untuk menjadi guru itu tak berbanding lurus dengan peningkatan kinerjanya dan proses pembelajaran di kelas di banyak sekolah, yang berimplikasi pada melejitnya prestasi para siswa secara massif.

Saya pun menilai, nyaris tak ada perubahan praktek dan proses pembelajaran di banyak sekolah. Amat langka penggunaan metode pembelajaran mutakhir yang mampu melejitkan potensi kecerdasan siswa ala Howard Gardner, atau praxis pendidikan yang membebaskannya Paolo Freire, atau gaya kelas progresifnya John Dewey.

Usangnya Metode Celengan Bagong

Beberapa hari lalu, saat saya meminta anak-anak binaan lembaga yang saya dirikan, Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), agar mereka di Hari Guru kali ini menulis surat apresiasi untuk para guru mereka, banyak dari mereka yang awalnya menolak. Sebab, menurut mereka, tak sedikit guru yang masih bertindak tak menyenangkan pada siswa. Seperti menghardik, menjewer, menarik cambang, mengeplak kepala, melempar, dan lainnya. Selain betapa membosankannya dan tak nyamannya cara mengajar para guru itu.

Mengapa praktek yang tak disenangi siswa itu terus berlangsung justru saat kesejahteraan guru jauh lebih baik dari sebelumnya?

Diantaranya, menurut saya, karena rata-rata para guru yang ada saat ini adalah produk sekaligus pewaris dan pelaksana metode paedagogi sebelumnya yang dipandang mapan yang dianggap tak mengandung persoalan serius ketika diterapkan di jaman yang teurs berubah dan menuntut perubahan dalam metode.

Padahal ketika metode usang itu terwariskan dan diserap ke dalam pikiran bawah sadar para guru generasi masa kini itu ‎dan dipraktekkan di banyak ruang kelas sekolah, justru tanpa disadari penerapan metode pembelajaran itu berimplikasi bagi terbangunnya jarak psikologis antara guru dan siswa. Dan sebuah jarak psikologis  tentu menjadi sandungan bagi proses belajar-mengajar yang efektif.

Sikap spontan yang diekspresikan oleh banyak anak binaan saya tentang gurunya setidaknya merupakan efek dari metode pembelajaran yang keliru itu.

Metode pembelajaran yang keliru dan tak layak lagi diterapkan itu adalah metode pembelajaran gaya bank” sebagaimana diungkap oleh Paolo Freire. Atau dalam istilah saya metode celengan bagong. Dalam metode tersebut, singkatnya, guru menyetor simpanan” ilmu yang itu-itu saja dan tak ter-update, teks book” dan tergantung seleranya dalam mengajar.

Sementara siswa sebagai celengan bagong, harus menerima itu dengan sabar, dihafal dan diulangi, agar memperoleh predikat anak rajin” setidaknya dalam kriteria subjektif guru. Dan mampu menjawab dan menjelaskan pelajaran persis seperti yang dijelaskan guru atau yang terdapat dalam buku teks yang tersedia.

Sementara kreatifitas pemikiran dan perspektif-perspektif jawaban yang mungkin muncul di luar pakem yang dijejalkan guru dan buku teks yang dipedomani para guru dipandang sebagai kekeliruan yang tak memperoleh tempat. Jelas itu metode usang dan membunuh perkembangan daya nalar, pola pikir dan kreativitas para siswa, bukan?

Anehnya sejauh ini tak ada kebijakan dalam skala nasional yang memotong keberlangsungan metode pembelajaran gaya bank atau celengan bagong tersebut. Padahal kurikulum senantiasa bergonta-ganti tanpa di dalamnya ada keseriusan membenahi persoalan penting dalam sistim pendidikan dan persekolahan kita, yakni metode pembelajaran.

Padahal pendidikan, dalam UU No. 23 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasionaal (Sisdiknas), diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Kecerdasan Majemuk

Metode baik dan tepat, yang dapat diterapkan dalam skala nasional di sektor pendidikan kita, menurut saya adalah yang berbasis pada pendekatan multiple intelligence (kecerdasan majemuk). Sebuah pendekatan yang memberikan apresiasi terhadap beragam potensi kecerdasan anak.

Sementara metode pembelajaran yang diterapkan adalah bahwa cara mengajar guru harus menyesuaikan diri dengan cara belajar siswa yang beragam potensi kecerdasannya itu. Dan suasana yang dibangun haruslah menggembirakan dan sekreatif mungkin.

Lewat metode tersebut sesungguhnya guru dan murid sama-sama sedang belajar. Keduanya sedang saling mengikat makna atas hal yang dipelajari sekaligus memperkaya khazanah atas hal itu lewat saling berbagi atas perspektif masing-masing.

Tentu metode itu amat jauh berbeda dan berkebalikan dengan metode gaya bank atau celengan bagong yang berpusat pada guru dan berciri-ciri:

1. Guru tahu segalanya, sementara siswa tidak tahu.
2. Guru subjek, sementara murid objek.
3. Guru aktif, sementara murid pasif.
4. Guru bicara, sementara siswa diam dan mendengarkan.
5. Guru mengatur, sementara murid diatur.
6. Guru berpikir, sementara murid dipikirkan.
7. Guru bertindak, sementara murid menonton.

Pendekatan dan metode multiple intelligence ini amat menjanjikan mampu melejitkan potensi kecerdasan yang paling menonjol dari para siswa. Jika potensi kecerdasan paling menonjol dari setiap siswa itu terus dirangsang dan diasah penggunaannya oleh para guru dan orangtua, maka mereka akan tumbuh menjadi pribadi berkemampuan dan berkarakter hebat sesuai dengan potensi kecerdasannya yang paling menonjol.

Harus diingat bahwa orang sukses senantiasa ia adalah spesialis, bukan generalis. Dan dalam konteks pendekatan dan metode multipe intelligence itulah sistim pendidikan kita benar-benar sedang menyiapkan para siswa menjadi pribadi-pribadi sukses karena spesialisasi kemampuan berbasiskan pada potensi kecerdasan yang paling menonjol dan terus diasah dalam sistim pendidikan nasional kita.

Tentu metode ini akan bisa berjalan bersama para guru yang tercerahkan, yang telah dibekali lewat serangkaian pelatihan yang mampu meningkatkan pemahaman atas filsafat, paradigma, metode dan praxis pendidikan yang membebaskan.

Dan terlepas dari semua yang saya ulas di atas, dengan kerendahan hati dan hormat saya pada profesi guru, saya mengucapkan: Selamat Hari Guru, wahai para guru tercinta dimana pun berada!.

NANANG DJAMALUDIN
Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN)





BERITA LAINNYA

RUBRIK   :